Ketua Harian LPTQ Kota Tangsel KH Muhammad Sobron Zayyan mengungkapkan pentingnya pengetahuan akan membaca Al-Quran yang bersanad.
Demikian mengemuka kala dirinya memberikan sambutan pada Seminar Internasional Al-Quran Bersanad yang digelar oleh Yayasan Ruang Muamalat Global di Puspemkot Tangsel pada hari ini Sabtu pagi 1 November 2025.
Pimpinan Pesantren Al-Quraniyyah Pondok Aren tersebut, menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yayasan Ruang Muamalah Global yang sudah melaksanakan acara Seminar Internasional Quran tersebut.
Dirinya meyakini dengan kehadiran pembicara utama Dr. Syaikh Nashruddin Issam, Ulama Qira’ati Al-Azhar Mesir tersebut menjadikan materi seminar yang berbobot.
Apa yang menjadi kajian dalam seminar tersebut selaras dengan moto Tangsel Cerdas, Modern dan Religus.
“Kegiatan Seminar Al-Quran Bersanad dengan pembicara di bidangnya akan memuluskan upaya membumikan Al-Quran di Tangsel,” ucap KH Sobron, biasa disapa.
Selain itu, melapangkan upaya Pemkot Tangsel bersama LPTQ Kota Tangsel dengan program Tangsel Mengaji sebagai cara mentradisikan membaca Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.
Karenanya, KH Sobron meminta untuk dilakukan seminar sejenis pada tahun depan dengan melibatkan para pembina dan dewan hakim MTQ Kota Tangsel sekaligus pengurus LPTQ Kota Tangsel.
Ini karena materi seminar membicarakan qiroat (bacaan) sepuluh yang dianggap muktabar (dibenarkan munurut banyak ulama).

KH Sobron menerima cendra mata dari panitia seminar internasional Al-Quran Bersanad – Istimewa.
Qiroat Sepuluh dalam Membaca Al-Quran
KH Sobron menjelaskan, qiraat sepuluh itu terdiri dari tujuh qiroat diriwiyatkan oleh Imam Ibnu Mujahid dengan sisa tiga qiroat yang diriwiyatkan oleh Imam Ibnu Jazari.
“Qiroat sepuluh tersebut merupakan qiroat yang mutawatiroh (diriwayatkan oleh banyak orang, red) yang berasal dari Nabi Muhammad SAW, Nabi Muhammad SAW dari Malaikan Jibril dan Malaikat Jibril dari Allah SWT,” kata dia.
KH Sobron mewanti-wanti penggunaan qiroat 14 dan 20 yang beredar di masyarakat, bahwa itu merupakan qiroat syadziyyah (tidak tersambung pada Nabi Muhammad SAW) yang dilarang untuk dipraktikkan oleh kalangan muslim.
“Orang yang membaca Al-Quran tanpa merujuk pada qiroat mutawatiroh, bacaannya tidak akan sampai kepada Nabi Muhammad SAW,” ucap dia dengan meminta untuk hati-hati menggunakan qiroat syadziyyah.
Untuk itu, perlu diketahui oleh masyarakat muslim tentang tiga syarat dalam membaca Al-Quran agar bacaannya diterima oleh Allah SWT.

KH Sobron mewanti-wanti kaum muslim untuk menggunakan qiroat yang mutawatir – Istimewa.
Tiga Syarat Membaca Al-Quran
KH Sobron menyebut tiga syarat, pertama; sihhatu sanad yang artinya bersumber pada riwayat yang bisa dipercaya dari Ubaid Ibnu Sofah, Idris Al-Hasyimi, Abdurrahman Assanwani, yang langsung kepada lima orang sahabat Nabi.
Lima orang tersebut adalah Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Tholib, Muawiyah Bin Abi Sofyan, Zaid Bin Tsabit dan Ibnu Masud.
Bacaan dari lima sahabat Nabi itu, kata dia, sampai kepada tradisi membaca Al-Quran yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW.
Adapun yang kedua, adalah muwafaqotu ilmu nahwi yakni kesesuian dengan gramatikal tata bahas arab.
Ketiga adalah mutawatiroh yakni bacaan yang berdasarkan riwayat yang jelas jalurnya kepada tradisi membaca yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.